Jumat, 18 Mei 2012

askep hipertensi


F. PATHWAY

Kuman

Kerusakan jaringan

Peradangan

Reaksi sel fagosit berlebih                                        peningkatan suhu tubuh
 

                                    ABSES                                               hipertermia

Kematian menstimulus         pecah              gerak jaringan      distorsi jaringan
 

Resiko infeksi                                    kerusakan                  mobilitas         nyeri
                                                Integritas kulit           fisik


























BAB I
KONSEP DASAR
HIPERTENSI

A.    Pengertian
Hipertensi adalah tekanan yang lebih dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan derajat keparahannya mempunyai rentang dari tekanan darah normal tinggi sampai hipertensi maligna. Keadaan ini dikategorikan sampai primer/sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang dapat dikenali, seringkali dapatdiperbaiki.
                                                                            (Doengoes, 2000 : 39)
        Hipertensi adalah tekanan sistolik lebih tinggi dari 140 mmHg menetap atau tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg.                                                                                                                                        (Barbara, Engran, 1997 : 368)
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg, dan bila pasien memakai obat anti hipertensi.
                                                                (Mansjoer, Arief, 1999 : 518)
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan distolik lebih dari 90 mmHg dengan gejala nyeri kepala, epistaktis, marah, rasa berat dikepala, pusing, mata berkunang dan sukar tidur.
1
 
 

B.     Penyebab
      Menurut Arief Mansjoer, dkk (1999) penyebab hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut :
1.      Hipertensi esensial atau hipertensi primer adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90% dari seluruh hipertensi)
Hipertensi esensial/primer (hipertensi Idiopatik) disebabkan oleh :
a.       Usia
b.      Jenis kelamin
c.       Riwayat keluarga
d.      Obesitas
e.       Diet
f.       Merokok

2.      Hipertensi sekunder adalah hipertensi renal yang disebabkan akibat dari adanya penyakit lain.
Hipertensi sekunder/hipertensi sosial disebabkan oleh :
a.       Penggunaan estrogen
b.      Penyakit ginjal
c.       Hipertensi vaskuler
d.      Hiperaldosteron primer


C.    Tanda Dan Gejala
1.      Sakit kepala
2.      Marah
3.      Telinga berdenging
4.      Rasa berat ditengkuk
5.      Sukar tidur
6.      Mata berkunang-kunang dan pusing
                                                                  (Mansjoer, Arief, 1999 : 518)

D.    Komplikasi
      Beberapa komplikasi dapat muncul pada pasien dengan hipertensi. Komplikasi tersebut antara lain pada otak dapat menimbulkan stroke, pada ginjal dapat berupa gagal ginjal, kebutaan pada mata serta gagal jantung.                                                                                                     (Engran, 1997)

1.      Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi otak atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non-otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan menebal.
2.      Gagal ginjal kronik terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada kapiler-kapiler ginjal glomerulus.
3.      Dapat terjadi infark miokardiom apabila arteri koroner yang aterosklerosis tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk thrombus yang menghambat aliran darah melalui pembuluh tersebut.

E.     Klasifikasi
a. Klasifikasi menurut jenis macamnya
1). Hipertensi sistolik
a). Pada hipertensi ini hanya tekanan sistolik yang meningkat.
b). Kekuatan jantung kiri yang meningkat
c). Aorta yang kaku karena adanya degenerasi dari dinding
d). Kapasitas yang mengurangi dari aorta
2). Hipertensi dengan peningkatan tekanan sistole dan diastolik
b. Klasifikasi menurut tingkatan kliniknya
1). Fase benigna
      Tekanan darah sistolik maupun diastolik belum begitu meningkat bersifat ringan atau sedang dan belum tampak kelainan atau kerusakan dari target organ (otak, mata, jantung dan ginjal)
2). Fase maligna
     Tekanan darah diastolik terus menerus meningkat biasanya lebih dari 130 mmHg diastolik dan terdapat kelainan serta kerusakan dari organ’Organ target” yang bersifat progresif.



c.       Klasifikasi Berdasarkan tingkatan
a. Hipertensi borderline
        Pada hipertensi ini, tekanan darahnya berubah-ubah antara normal dan tinggi. Hal ini tergantung pada keadaan atau emosi dan beberapa kali banyaknya tekanan darah diperiksa.
b. Hipertensi ringan
        Pada golongan ini, tekanan darah diastolik selalu lebih dari 90 mmHg (rata-rata 90-104), tetapi jarang mendapat komplikasi kegagalan faal jantung kongesti dan kerusakan faal ginjal.
c. Hipertensi sedang
        Pada penderita hipertensi ini, tekanan darah diastolik selalu sekitar      105-114 mmHg pada pemeriksaan tekanan darah berulang-ulang. Pada hipertensi sedang, memerlukan pengobatan yang seksama karena mempunyai resiko mendapat komplikasi yang membahayakan
d.  Hipertensi berat
        Pada penderita hipertensi golongan ini, tekanan darah diastolik selalu sekitar 115-129 mmHg. Keadaan ini dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya, apabila tidak diobati.
                        Tingkatan nyeri yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
  1. Skala 1: tidak ada nyeri
  2. Skala 2-4: nyeri ringan, dimana klien belum mengeluh nyeri, atau masih dapatditolerir karena masih dibawah ambang rangsang.
  3. Skala 5-6: nyeri sedang, dimana klien mulai merintih dan mengeluh, ada yang sambilmenekan pada bagian yang nyeri
  4. Skala 7-9: termasuk nyeri berat, klien mungkin mengeluh sakit sekali dank lien tidak mampu melakukan kegiatan biasa
  5. Skala 10: termasuk nyeri yang sangat, pada tingkat ini klien tidak dapat lagi mengenal dirinya

(Http://AKPER PPNI SOLO JATENG.blogspot.com/2010/04/askep hipertensi.24.html)

F.     Patofisiologi
      Dalam keadaan normal jantung memiliki kemampuan untuk memompa lebih dari daya pompanya dalam keadaan istirahat. Kalau jantung menderita beban volume atau tekanan berlebihan secara terus-menerus, maka ventrikel dapat melebar untuk meningkatkan daya kontraksi sesuai dengan hukum starling yaitu hipertrophi untuk meningkatkan jumlah otot dan kekuatan memompa sebagai kompensator alamiah.
      Jika mekanisme pengkompensasian tidak dapat menopang perfusi perifer yang memadai, maka aliran harus dibagi sesuai kebutuhan. Darah akan dipindahkan dari daerah-daerah yang tidak vital seperti kulit dan ginjal sehingga perfusi darah ke otak dan jantung dapat dipertahankan. Akibatnya tanda permulaan dari syok atau perfusi jaringan yang tidak adekuat adalah berkurangnya pengeluaran air seni, kulit dingin. Perubahan bermakna pada aliran darah yang menuju organ vital terjadi.
      Tekanan arteri sistemik  ditimbulkan oleh cardiac output dan tahanan perifer total. Cardiac output ditentukan oleh isi sekuncup (stroke volume) dan denyut jantung. Sedang tahan perifer dipelihara oleh sistem saraf otonom dan sirkulasi hormon. Setiap perubahan pada tahanan perifer, denyut jantung dan stroke volume akan merubah tekanan arteri sistemik.
      Terdapat empat sistem kontrol yang mempertahankan tekanan darah yaitu sistem baroreseptor arteri, regulasi volume cairan tubuh, sistem renin angiotensin dan autoregulasi vaskuler.
      Stimulasi baroreseptor di sinus karotikus dan arkus aorta akan merangsang sistem saraf simpatik sehingga menimbulkan peningkatan epinefrin dan norepinefrin. Keadaan ini menimbulkan peningkatan cardiac output dan resistensi vaskuler sistemik.
      Perubahan volume cairan akan mempengaruhi tekanan arteri sistemik. Jika di dalam tubuh terdapat air dan garam yang berlebihan, maka akan meningkatkan aliran balik vena, cardiac output dan tekanan.
      Autoregulasi pembuluh darah adalah proses yang mempertahankan perfusi ke suatu jaringan tetap konstan. Jika aliran berubah, proses autoregulasi akan menurunkan resistensi vaskuler sehingga mengakibatkan penurunan atau peningkatan aliran.
      Meskipun jelas bahwa aterosklerosis dan hipertensi ada hubungannya, hal ini tidak tentu mana penyebab dan mana akibat. Dalam beberapa kasus aterosklerosis, meningkatnya tekanan arteri dan resistensi perifer terhadap aliran darah, memberikan dampak terhadap aliran darah yang meningkat.
      Renin merupakan enzim yang disekresikan oleh sel jukstaglumerulus ginjal dan terikat dengan aldeosteron dalam lingkungan umpan balik negatif. Produk akhir kerja renin pada  subtratnya adalah pembentukan angiotensin peptida II, mempengaruhi aldosteron untuk terjadi pengikatan natrium dan air ke interstitial sehingga volume pembuluh darah meningkat. Ketidakcocokan sekresi renin meningkatkan perlawanan periphenal, mitral eskemi arteri ginjal akan membebaskan renin yang menyebabkan kontraksi arteri dan meningkatkan tekanan darah.
      Dalam rokok terdapat nikotin yang dapat mengendap di dalam pembuluh darah yang mengakibatkan arteriosklerosis sehingga kerja dalam pembuluh darah tidak dapat sempurna yang berakibat timbulnya peningkatan tekanan darah.
      Stres dapat menyebabkan tekanan batin ini terjadi berulang-ulang. Naiknya tekanan darah menyebabkan kelainan pada dinding pembuluh nadi,yang menyebabkan penurunan kapasitas seseorang untuk mempertahankan aktifitas sampai ke tingkat yang di inginkan.
      Nyeri (Sakit kepala) keadaan dimana seorang individu mengalami nyeri yang menetap atau intermiten yang berlangsung selama enam bulan atau lebih. Yang di tandai dengan peningkatan pembuluh darah ke otak.
      Intoleransi aktifitas terjadi karena penurunan aktifitas seseorang untuk mempertahankan aktifitas sampai ketingkat yang di inginkan.di karenakan suplai O2 menurun sehingga terjadi kelemahan fisik.
      Kurang informasi yang tidak adekuat yang menyebabkan individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan sehingga terjadi kurang pengetahuan.
      Penurunan curah jantung adalah keadaan di mana seseeorang individu mengalami penurunan jumlah darah yang di pompakan di karenakan beban kerja jantung meningkat dan suplai O2 ke otak menurun.
(Dikutip dari Http : //AKPER PPNI SOLO JATENG.Blogspot.Com /2010/04/ askep hipertensi. 24. html)



G.    Pathway
 
























Nyeri kepala
 
                                                                       

Penurunan curah jantung
 
 



   (Http://AKPER PPNI SOLO JATENG.blogspot.com/2010/04/askep hipertensi.24.html)

H.    Penatalaksanaan
Penatalaksanaan nonfarmakologis pada pasien hipertensi antara lain :
Menurut Mansjoer (1999), penatalaksanaan nonfarmakologis :
a)      Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan
b)      Membatasi alkohol
c)      Meningkatkan aktivitas fisik aerobik ( 30-40 menit/hari)
d)     Mengurangi asupan natrium
e)      Mempertahankan asupan kalsium dan magnesium adekuat
f)       Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan

Menurut Suyono (2001), penatalaksanaan farmakologis :
a)      Diuretik
Menurunkan volume ekstraseluler dan  plasma sehingga terjadi penurunan curah jantung. Untuk terapi jangka panjang pengaruh utama adalah mengurangi resistensi perifer. Efek samping : hiponatremia dan hipokalemia
b)      Golongan penghambat simpatetik
Penghambatan aktivitas simpatik dapat terjadi pada pusat vasomotor otak seperti pada pemberian metilpoda dan klonidin atau pada ujung saraf perifer seperti reserpin dan guanetidin.


c)      Penyekat Beta
Efektif untuk menurunkan denyut jantung dan curah jantung, juga menurunkan sekresi renin. Kontraindikasi bagi pasien gagal jantung kongestif. Preparat yang biasa digunakan adalah propanolol, asebutolol, atenolol, pindolol, timolol, dll.
d)     Vasodilator
Yang termasuk golongan ini adalah doksazosin, prazosin, hidralazin, minoksidil, diaksozid, dan sodium nitroprusid. Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan cara relaksasi otot polos yang akan mengakibatkan penurunan resistensi pembuluh darah

I.       Fokus Pengkajian
Menurut Dongoes (2000:39) pengkajian klien hipertensi adalah sebagai berikut :
1.      Aktivitas/Istirahat
Gejala        : kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton
Tanda        : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung,             takipnea
2.      Sirkulasi
Gejala        : riwayat TD, hipotensi postural, takikardi,  perubahan warna kulit, suhu  dingin.


3.      Integritas Ego
Gejala        : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, faktor stress multipel
Tanda        : letupan suasana hati, gelisah, peyempitan kontineu perhatian, tangisan yang meledak, otot muka tegang, pernapasan menghela, peningkatan pola bicara
4.      Eliminasi
Gejala        : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu
5.      Makanan/Cairan
Gejala        : makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, lemak dan kolesterol
Tanda        : BB normal atau obesitas, adanya edema
6.      Neurosensori
Gejala        :  keluhan pusing/pening, sakit kepala, berdenyut sakit kepala, berdenyut, gangguan penglihatan, episode epistaksis
Tanda        : Perubahan orientasi, penurunan kekuatan genggaman, perubahan retinal optik
7.      Nyeri/ Ketidaknyamanan
Gejala        : angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat, nyeri abdomen



8.      Pernapasan
Gejala        :  dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea, ortopnea, dispnea nocyural proksimal, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok
Tanda        : distress respirasi / penggunaan otot aksesoris pernapasan, bunyi napas tambahan, sianosis
9.      Keamanan
Gejala        : gangguan koordinasi, cara jalan
Tanda        : episode parestesia unilateral transien, hipotensi postural
10.  Pembelajaran / Penyuluhan
Gejala        : factor resiko keluarga : hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM, penyakit ginjal, factor resiko etnik : penggunaan pil KB atau hormone.

J.      Fokus Intervensi
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul menurut Dongoes 2000 :
1.      Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterlood, vasokontriksi, semua makanan.
Tujuan :
a.       Mempertahankan TD dalam rentang individu yang tepat
b.      Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil
c.       Berpartisipasi dalam aktivitas Tp/ beban kerja jantung
Kriteria Hasil : tidak mengalami penurunan curah jantung
Intervensi :
a.       Pantau tekanan darah
b.      Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas
c.       Amati warna kulit, kelembaban suhu dan masa pengisian kapiler
d.      Berikan lingkungan tenang, nyaman, batasi pengunjung
e.       Anjurkan teknik relaksasi
2.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
Tujuan :
a.       Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/ diperlukan
b.      Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur
Kriteria hasil :
Pasien bisa melakukan aktivitas tanpa ada kelemahan secara umum
Intervensi :
a.       Kaji respon pasien terhadap aktivitas
b.      Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi
c.       Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/ perawatan diri
3.      Nyeri (Akut) sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral
Tujuan :
a.       Melaporkan nyeri/ ketidaknyamanan/ terkontrol
b.      Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan
Kriteria Hasil :
a.       Rasa nyeri pada kepala hilang
b.      Pasien mengikuti metode untuk mengurangi rasa nyeri
Intervensi :
a.       Mempertahankan tirah baring selama fase akut
b.      Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan nyeri
c.       Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
d.      Meminimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan nyeri
e.       Berikan cairan makanan lunak, perawatan mulut yang teratur, bila terjadi perdarahan hidung/ kompres hidung telah dilakukan untuk menghentikan perdarahan
4.      Koping individu tidak efektif berhubungkan dengan krisis situsional
Tujuan :
a.       Mengidentifikasikan perilaku koping efektif dan konsekuensinya
b.      Mengatakan kesadaran kemampuan koping/ kekuatan pribadi
Intervensi :
a.       kaji efektif strategi koping dan mengobservasi perilaku
b.      Bantu pasien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan strategi mengatasinya
c.       Dorong pasien untuk mengidentifikasi/ mengevaluasi prioritas/ tujuan hidup
d.      Libatkan pasien dalam perencanaan keperawatan dan motivasi dalam rencana pengobatan
5.      Kurang pengetahuan mengenai kondisi rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan/ daya ingat, missal interprestasi informasi
Tujuan :
a.       Mengatakan perubahan tentang proses penyakit
b.      Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi
Kriteria Hasil :
a.       Mengetahui tentang penyakit
b.      Tekanan darah dalam ukuran normal
Intervensi :
a.       Tetapkan dan nyatakan TD normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung pembuluh darah,ginjal dan otak
b.      Batasi pentingnya menghentikan rokok dan bantu pasien dalam membuat rencana untuk berhenti merokok
c.       Beri penguatan pentingnya kerjasama dalam regimen pengobatan dan mempertahankan perjanjian tindak lanjut
d.      Insruksikan pasien tentang peningkatan masukan dalam makanan atau cairan tinggi kalium dan kalsium
e.       Bantu pasien dalam mengidentikasi cara dimana perubahan hidup






BAB II
RESUME KEPERAWATAN

A.    Pengkajian
      Pada pengkajian tanggal 29 April 2011 jam 09.00 WIB di ruang Rosella RSU Kardinah Tegal diperoleh data sebagai berikut : Ny.S umur 60 Tahun, jenis kelamin perempuan, agama islam, status kawin, pendidikan SD, pekerjaan tani, tempat tinggal Sidomulya RT.04 RW 02 Warureja.
      Ny.S masuk rumah sakit pada tanggal 26 April 2011 dengan diagnosa medis Hipertensi. Penanggung jawab Ny.S selama dirawat dirumah sakit adalah Tn.W berusia 65 tahun dan bekerja sebagai buruh. Hubungan dengan Ny.S adalah sebagai suami dan beralamat di Sidomulya RT.04 RW 02 Warureja. Keluhan awal yang dirasakan Ny.S pada waktu masuk rumah sakit adalah pusing/nyeri kepala, kedua kakinya terasa nyeri jika beraktivitas dan terasa kram, sakit/nyeri pada tengkuk kepala dan terasa senut-senut dengan skala nyeri 5.
18
 
      Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 29 April 2011 keluhan utama yang sekarang dialami Ny.S mengatakan nyeri/pusing pada kepalanya. Menurut keterangan sebelum Ny.S masuk Rumah Sakit mengeluh pusing, nyeri/sakit ditengkuk kepalanya, panas naik turun selama 2 minggu, dan kakinya nyeri yaitu : P : pasien mengatakan nyeri saat beraktivitas, Q: nyeri senut-senut, R: nyeri pada kedua kaki, S: dengan skala nyeri 5, T : dimana nyeri timbul hilang.

      Dan kemudian berobat kedokter terdekat pusingnya tidak hilang akhirnya keluarga membawa Ny.S ke RSU Kardinah Tegal. Ny.S juga mengatakan kalau dirinya sudah 3 bulan yang lalu menderita penyakit hipertensi namun belum mengetahui sebenarnya penyakit yang dideritanya. Ny.S selalu bertanya-tanya tentang penyakitnya. Menurut keterangan Ny.S dahulu tidak pernah menderita penyakit yang parah, yang memerlukan perawatan khusus dirumah sakit.
      Diagnosa medis pada saat masuk Rumah Sakit adalah Hipertensi. Tindakan yang dilakukan pada awal masuk Rumah Sakit dipasang infus RL. Pada pemeriksaan laboratorium pada tanggal 26 April 2011 didapati WBC 7.45[10^3/ul] M=4.8-10.8 F=4.8-10.8, RBC 3.49[10^6/ul] M=4.7-6.1 F=4.2-5.4, HGB 11.0[g/dl] M=14-18 F=12-16, HCT 34.4[%] M=42-52 F=37-47, PLT 288[10^3/ul] N=150-450.
      Ny. S pada pengetahuannya masih kurang mengetahui akan penyakit yg dideritanya. Ny.S selalu bertanya-tanya akan penyakit yang dideritanya. Sebelum masuk rumah sakit Ny.S sering kontrol tentang penyakitnya yaitu untuk memeriksakannya dan mengerti serta tahu penyakit yang di deritanya.
      Pola nutrisi dan metabolik sebelum Ny.S dirawat di RS Ny.S biasa makan 3x sehari dengan nasi, lauk dan sayur. Selama dirawat di RS Ny.S juga tetap makan 3x sehari habis 1 porsi. Minum 6 – 7 gelas perhari air putih ditambah dengan terpasang infus RL 20 tetes permenit.
      Pola eliminasi sebelum dirawat pasien BAB 1-2x perhari saat pagi dan sore dengan konsistensi lembek, warna kuning, bau khas feses. Selama dirawat klien BAB hanya 1x perhari kadang tidak BAB. Ny.S mengatakan tidak ada keluhan dalam BAK.  Ny.S BAK 3-4x sehari, warna kuning, bau khas, tidak terpasang kateter.
      Pola aktivitas dan latihan sebelum sakit, Ny.S mengatakan dapat beraktivitas sendiri tanpa bantuan orang lain maupun dengan alat bantu seperti kursi roda. Setelah sakit dan dirawat dirumah sakit, Ny.S hanya bisa berbaring ditempat tidur, Ny. S mengatakan belum bisa melakukan aktivitas secara mandiri karena tubuhnya lemah dan karena kedua kakinya nyeri/ sakit. Selain itu kebutuhan sehari-hari pasien dibantu oleh keluarganya seperti mandi, makan, minum, dan eliminasi. Ny. S selalu berharap agar dapat sembuh dan dapat berkumpul dengan keluarga.
      Pola tidur dan Istirahat sebelum dirawat Ny.S biasa tidur 8 jam perhari. Selama dirawat pasien terganggu istirahat tidurnya karena rasa nyeri.
      Pola perseptual Ny.S umumnya baik. Ny.S dapat mengenali perawat dan anggota keluarganya. Pendengaran terganggu, tidak ada gangguan pengecapan. Klien dapat menyebutkan namanya dan alamatnya.
      Pola persepsi diri Ny.S mengatakan yakin bahwa dia pasti sembuh dengan pengobatan dan perawatan yang di dapat di RS.
Pola seksual dan reproduksi Ny.S merupakan istri dari Tn.W. Ny.S tidak memikirkan masalah kebutuhan seksual dikarenakan pasien sedang sakit. 


      Pola peran dan hubungan Ny.S dengan keluarga saudara dan tetangga baik terlihat anak-anaknya selalu menemani pasien.
      Pola manajemen dan koping stress Ny.S hanya bisa menerima keadaan sekarang ini dan pasien selalu optimis bahwa dirinya pasti akan sembuh dari penyakit yang di deritanya. Dalam setiap ada permasalahan dalam keluarga selalu diselesaikan secara musyawarah.
      Sistem nilai dan keyakinan Ny.S sebelum dirawat pasien selalu menjalankan shalat 5 waktu dirumah. Selama sakit Ny.S tidak shalat, Ny.S selalu berdo’a untuk kesembuhannya.
·         PEMERIKSAAN FISIK
Hasil pemeriksaan fisik pada Ny. S diperoleh data : keadaan umum sedang, kesadaran composmentis, tekanan darah 160/100 mmHg, suhu 36,50 C, Nadi 88x/menit, RR 22x/menit.
BB pertama masuk 53 kg, TB sekarang : 160 cm.
BB sekarang : 53 kg, TB sekarang : 160 cm.
      IMT = 53 =   531 = 20,73 kg/m (normal) 
               (1,6)2    2,56

Keterangan :
·          < 18 kg/m             = Kurang dari kebutuhan tubuh
·         > 18 - < 23 kg/m   = Kebutuhan tubuh terpenuhi (Ideal)
·         > 23 Kg/m             = Lebih dari kebutuhan tubuh
Bentuk kepala mesochepal, rambut hitam putih, pendengaran baik, tidak ada serumen, penglihatan baik tidak ada anemis, tidak ada polip, penciuman masih baik, mukosa bibir kering, lidah bersih, pada leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.

·         Thorak : Inspeksi               : simetris
                Palpasi               : tidak ada nyeri tekan
                Perkusi              : tidak ada bunyi timpani
               Auskultasi          : bunyi paru vesikuler

·         Abdomen : Inspeksi          : Pada abdomen tidak ada pembesaran perut
                  Auskultasi       : Terdengar bising usus
                  Perkusi            : Tympani
                  Palpasi             : Tidak ada nyeri tekan
      Keadaan  genetelia bersih, tidak terpasang kateter, Kulit lembab, bersih, jejas (-), WPK< 2 detik, edema (-), terpasang infuse RL 20 tetes/menit pada tangan kanan.
Ekstremitas atas kekuatan 5/5, gerak B/B
Ekstremitas bawah kekuatan 4/4, gerak T/T
      Terapi yang diberikan pada Ny. S pada tanggal 29 April 2011 adalah captopril 3x50 gr (oral), Ceftriaxon 2x1 gr, Catapress 2x150 mg.


B.     Analisa Data Dan Diagnosa
      Setelah dilakukan pengkajian, diagnosa keperawatan yang muncul, menurut prioritas berdasarkan hasil analisa data adalah sebagai berikut :
      Diagnosa keperawatan pertama : Nyeri (Sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan cerebral vaskuler, didukung dengan munculnya data subyektif klien Mengatakan pusing dan terasa senut-senut dan data obyektif pasien tampak memegangi tengkuk kepalanya, tekanan darah 160/100 mmHg, skala nyeri 5.
      Diagnosa keperawatan kedua : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/fatique, didukung dengan munculnya data subyektif pasien mengatakan kedua kakinya terasa nyeri dan kadang kram dan data obyektif skala nyeri 5, kedua kaki terjadi penurunan aktivitas akibat rasa nyeri dan pasien di bantu dalam beraktivitas misal perawatan diri serta bedrest di tempat tidur.
      Diagnosa keperawatan ketiga : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya, di dukung dengan munculnya data subyektif pasien mengatakan tidak tahu banyak tentang penyakitnya (hipertensi) dan data obyektif pasien sering bertanya kepada perawat tentang penyakit hipertensi.

C.    Diagnosa Keperawatan, Tujuan, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi
1.      Nyeri (Sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan cerebral vaskuler
            Tujuan yang ingin dicapai adalah nyeri (Sakit kepala) dapat teratasi dengan kriteria hasil : Pasien tidak mengeluh nyeri (Sakit kepala) lagi, ekspresi wajah rileks, skala nyeri 2, tekanan darah dalam batas normal.             Intervensi keperawatan yang telah dilakukan adalah kaji skala dan lokasi nyeri, ajarkan tekhnik relaksasi dan distraksi, anjurkan untuk tirah baring, dan berikan posisi senyaman mungkin.
             Implementasi keperawatan yang telah dilakukan adalah mengkaji skala dan lokasi nyeri, mengajarkan tekhnik tarik nafas dalam, menganjurkan untuk banyak istirahat di tempat tidur dan memberikan posisi sim kanan.
            Hasil evaluasi dari masalah keperawatan di atas setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mengatakan masih nyeri (Sakit kepala), Skala nyeri 5, pasien tampak meringis kesakitan. Hasil evaluasi lanjutkan intervensi yang telah di tetapkan.
2.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan / fatique
            Tujuan yang ingin dicapai adalah Intoleransi aktivitas dapat teratasi dengan kriteria hasil : klien berhati-hati dalam beraktivitas, rasa nyeri dikaki berkurang atau hilang, klien dapat melakukan ADL sendiri.             Intervensi tindakan keperawatan yang telah dilakukan adalah batasi aktivitas tiba-tiba, anjurkan untuk hati-hati dalam beraktivitas, ciptakan lingkungan yang nyaman, bantu pasien dalam memenuhi kebutuhanya, anjurkan pasien untuk menggerakan / mengangkat ekstremitas bawah sesuai kemampuan.
            Implementasi keperawatan yang telah dilakukan adalah membatasi aktivitas tiba-tiba, menganjurkan untuk hati-hati dalam beraktivitas, menciptakan lingkungan yang nyaman/ perbedent atau membatasi pengunjung, membantu pasien dalam memenuhi kebutuhanya, menganjurkan pasien untuk menggerakan/ mengangkat kedua kakinya sesuai kemampuan.
            Hasil evaluasi dari keperawatan di atas setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mengatakan dalam beraktivitas sangat berhati-hati dan masih nyeri, cara berjalan pasien perlahan dan Kadang mengalami kram. Hasil evaluasi lanjutkan intervensi yang telah di tetapkan.
3.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya (hipertensi)
            Tujuan yang ingin dicapai adalah pasien mengetahui tentang penyakitnya (hipertensi) dengan kriteria hasil : pasien mengetahui tentang penyakit yang dialaminya (hipertensi), keluarga mengetahui tentang penyakit hipertensi.
             Intervensi keperawatan yang telah dilakukan adalah kaji tingkat pengetahuan pasien, berikan pengetahuan tentang penyakit hipertensi melalui pendidikan kesehatan, jelaskan tentang pentingnya pengetahuan dalam mengikuti instruksi perawat.
             Implementasi keperawatan yang telah dilakukan adalah mengkaji tingkat pengetahuan pasien, memberikan pengetahuan tentang penyakit hipertensi melalui pendidikan kesehatan, menjelaskan tentang pentingnya pengetahuan dalam mengikuti instruksi perawat.
            Hasil evaluasi dari keperawatan di atas setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mengatakan sudah mengetahui tentang penyakitnya (hipertensi), pasien sudah tidak bertanya-tanya lagi kepada perawat.

















 

BAB III
PEMBAHASAN

            Setelah dilakukan pengkajian pada tanggal 29 April 2011 dan dianalisa berdasarkan pada batasan karakteristik yang ada, maka diagnosa yang muncul adalah sebagai berikut :
A.    Nyeri (Sakit kepala) Berhubungan Dengan Peningkatan Tekanan Cerebral Vaskuler
     Nyeri (Sakit kepala) adalah keadaan dimana seorang individu mengalami nyeri yang menetap atau intermiten yang berlangsung selama enam bulan atau lebih. Untuk memunculkan diagnosa tersebut harus terdapat adanya batasan karakteristik yaitu ketidaknyamanan, marah frustasi, depresi karena situasi raut wajah kesakitan, anoreksia, penurunan berat badan, insomnia, gerakan yang sangat berhati-hati, spasme otot, kemerahan, bengkak, panas, perubahan warna pada area yang terganggu, abnormalitas refleks.
                                                                                      (Carpenito, 1998 : 225) 
27
 
     Sedangkan menurut NANDA (2005 : 146) mendefenisikan nyeri akut sebagai pengalaman emosional dan sensori yang tidak menyenangkan yang muncul dari kerusakan jaringan secara aktual atau potensial atau menunjukan adanya kerusakan (Association/or the study of pain) : serangan mendadak atau perlahan dari intensitas ringan sampai yang berat dapat diantisipasi atau diprediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan. Dengan batasan karakteristik secara subyek yaitu melaporkan nyeri secara verbal atau non verbal,obyektif : 
Tingkah laku berhati-hati, tingkah laku distraksi, dilatasi pupil, tingkah laku ekspresit.
     Pada pengkajian tanggal 29 april 2011 diperoleh data subyektif Ny. S mengatakan pusing, Ny. S mengatakan kakinya nyeri saat beraktivitas, Ny. S mengatakan lehernya sering kaku dan sering sakit kepala. Data obyektif Ny. S tampak meringis kesakitan. Melihat data yang terdapat dalam pengkajian dan analisa berdasarkan batasan karakteristik yang ada dirumuskan diagnosa nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan serebra vaskuler.
     Peningkatan tekanan serebral vaskuler menjadi etiologi dan diagnosa nyeri dilihat dari patofisiologinya bahwa terjadi gangguan sirkulasi di otak yang menyebabkan resistensi pembuluh darah otak meningkat dan suplai O2 otak menurun sehingga menimbulkan nyeri di kepala.
     Prioritas masalah nyeri dirumuskan sebagai diagnosa pertama adalah berdasarkan hierarki Maslow merupakan kebutuhan fisiologis yang pada prinsipnya merupakan kebutuhan yang paling dasar dan bila masalah ini tidak segera diatasi dapat mengancam gangguan kesehatan yang lebih berat atau klien dapat kehilangan kontrol terhadap tubuh sehingga dapat mengakibatkan gangguan dalam beraktivitas.
     Tujuan yang ingin dicapai keperawatan diharapkan pasien tidak mengeluh nyeri lagi. Skala nyeri 2, ekspresi wajah rileks, tekanan darah dalam batas normal.
     Dari data yang didapat pada pengkajian dan setelah dianalisa berdasarkan batasan karakteristik maka ditegakan diagnosa keperawatan nyeri berhubungan dengan peningkatan serebra vaskuler.
·         RENCANA TINDAKAN
            Dari diagnosa ini rencana tindakan yang telah dilakukan adalah mengkaji skala nyeri dan lokasi nyeri dan lokasi nyeri rasionalnya untuk mengevaluasi keefektifan dan nyeri rasionalnya untuk mengevaluasi keefektifan dan terapi yang diberikan, mengajarkan tehnik relaksasi dan distraksi rasionalnya adalah dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress membuat efek tenang sehingga akan menurunkan tekanan darah, menganjurkan untuk tirah baring rasionalnya menurunkan tekanan darah, menganjurkan untuk tirah baring rasionalnya menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat mengurangi sakit kepala, memberikan posisi senyaman mungkin rasionalnya mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan saraf simpatis.
·         IMPLEMENTASI
            Selama melakukan tindakan keuntungan yang didapat adalah pasien dan keluarga kooperatif dalam setiap tindakan pasien mau mengikuti, kesulitan yang dialami proses nyeri tidak mungkin hilang total melainkan secara bertahap dan toleransi tiap individu terhadap nyeri berbeda-beda.


·         EVALUASI
            Setelah dilakukan tindakan keperawatan dapat dilihat evaluasi pada tanggal 29 April 2011 pukul 13.00 adalah pasien mengatakan masih pusing, pasien tampak meringis kesakitan, skala nyeri 5. Dari hasil evaluasi dapat dianalisa bahwa masalah belum teratasi dan untuk mengatasi masalah nyeri lebih lanjut dilakukan pendelegasian tindakan keperawatan kepada perawat yang ada di ruangan.

B.     Intoleransi Aktivitas Berhubungan Dengan Kelemahan / Fatique
     Intoleransi aktivitas adalah penurunan kapasitas seseorang untuk mempertahankan aktivitas sampai ke tingkat yang diinginkan. Untuk memunculkan diagnosa keperawatan intoleransi aktivitas harus terdapat adanya batasan karakteristik yaitu setelah melakukan aktivitas didapatkan dispnea, diastolik meningkat  >150 mmHg, kelemahan, pucat, kacau mental, vertigo. (Lynda juall Carpenito, 1998 : 109).
     Pada pengkajian tanggal 29 April 2011 diperoleh data subyektif Ny. S mengatakan kakinya terasa nyeri dan kadang kram dan data obyektif diperoleh skala nyeri 5, kedua kakinya terjadi penurunan aktivitas akibat rasa nyeri, pasien dibantu dalam aktivitas misal perawatan diri pasien tampak berbaring ditempat tidur. Melihat data yang terdapat dalam pengkajian dan analisa berdasarkan batasan karakteristik yang ada dirumuskan diagnosa intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan / fatique.
     Prioritas dari masalah intoleransi aktivitas dirumuskan sebagai diagnosa kedua, cara memprioritaskan sesuai dengan kebutuhan klien, masalah harus segera diatasi karena jika tidak segera diatasi dapat mengancam kesehatan dan memperlama proses pemulihan sehingga tidak perlu ditangani segera akan tetapi jika tidak ditangani dapat  memperburuk kondisi klien.
     Tujuan yang ingin dicapai selama perawatan diharapkan klien dapat melakukan ADL sendiri tanpa bantuan orang lain, rasa nyeri di kaki berkurang atau hilang.
·         RENCANA TINDAKAN
            Tindakan yang telah dilakukan adalah membatasi aktivitas tiba-tiba rasionalnya untuk menurunkan rangsangan simpatis meningkatkan relaksasi, membantu pasien dalam memenuhi kebutuhanya rasionalnya mencegah kecelakaan, menganjurkan pasien untuk menggerakan ekstremitas bawah sesuai kemampuan rasionalnya membantu dalam mengkaji respon fisiologis terhadap aktivitas dan bila ada merupakan indicator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
·         IMPLEMENTASI
Selama dilakukan tindakan faktor yang menguntungkan adalah keluarga pasien dapat berperan berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan pasien, keluarga mampu merawat pasien selama 24 jam secara bergantian, kelemahannya karena keluarga masih khawatir dengan keadaan pasien, dan nyeri kepala bertambah apabila beraktivitas berlebihan, sehingga untuk melakukan tindakan tersebut harus secara bertahap dan hati-hati.
·         EVALUASI
            Setelah dilakukan tindakan keperawatan diperoleh hasil evaluasi pasien mengatakan dalam beraktivitas sangat hati-hati dan masih merasa nyeri. Analisa dari masalah di atas adalah masalah belum teratasi dan selanjutnya dilakukan pendelegasian kepada perawat ruangan.

C.    Kurang Pengetahuan Berhubungan Dengan Kurangnya Informasi Tentang Penyakitnya
     Menurut Lynda juall Carpenito (1998 : 589) adalah suatu kondisi dimana  individu atau kelompok mengalami kekurangan pengetahuan kognitif atau keterampilan psikomotor mengenai suatu keadaan dan rencana tindakan pengobatan. dengan batasan karakteristik mayornya adalah mengungkapkan kurang pengetahuan atau keterampilan, mengekspresikan suatu tindakan ketidaktahuan atau keterampilan, mengekspresikan suatu tindakan perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan, sedangkan batasan karakteristik minornya adalah : kurang integrasi tentang rencana pengobatan kedalam aktivitas sehari-hari, memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologis mengakibatkan kesalahan informasi atau kurang informasi.
     Pada pengkajian tanggal 29 April 2011 diperoleh data subyektif pasien mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya secara obyektif dapat dilihat pasien dan keluarga banyak bertanya pada perawat tentang penyakitnya. Melihat data yang terdapat dalam pengkajian dan dianalisa berdasarkan karakteristik yang ada dirumuskan diagnosa keperawatan kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi. Faktor yang berhubungan menurut Nanda (2005:125) adalah keterbatasan paparan, mudah lupa, mis interpretasi informasi, keterbatasan kognisi, tidak familiar dengan sumber informasi, kurang informasi pasien tentang penyakit sehingga penulis mengambil etiologi kurangnya informasi pasien tentang penyakit sehingga penulis mengambil etiologi kurangnya informasi tentang penyakitnya.
     Prioritas kurang pengetahuan sebagai diagnosa ketiga karena tidak memerlukan penanganan segera dibandingkan dengan diagnosa nyeri dan diagnosa resiko terhadap injuri.
     Tujuan yang ingin dicapai adalah dilakukan pendidikan kesehatan selama 30 menit diharapkan pengetahuan pasien bertambah dengan kriteria hasil. Pasien paham tentang penyakitnya, melakukan perubahan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan.
·         RENCANA TINDAKAN
            Tindakan yang telah dilakukan adalah mengkaji tingkat pengetahuan pasien rasionalnya mengetahui tingkat pengetahuan pasien, memberikan pengetahuan tentang penyakit hipertensi melalui pendidikan kesehatan rasionalnya agar klien mengerti penyakit yang dideritanya, menjelaskan tentang pentingnya pengetahuan dalam mengikuti instruksi perawat rasionalnya dapat mengikuti instruksi perawat.


·         IMPLEMENTASI
Setelah  dilakukan tindakan keperawatan keuntungan yang diperoleh adalah keluarga pasien dan pasien kooperatif, pasien banyak bertanya dengan perawat.
·         EVALUASI
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diperoleh evaluasi pasien mengatakan sudah tahu tentang hipertensi, secara obyektif pasien sudah tidak bertanya - tanya lagi kepada perawat. Analisa dari masalah di atas adalah masalah teratasi.    

            Diagnosa keperawatan yang tidak muncul dalam tinjauan kasus ini adalah:
a.       Penurunan curah jantung
Menurut Carpenito (1998) penurunan curah jantung adalah Keadaan dimana individu mengalami penurunan jumlah darah yang dipompakan oleh jantung, mengakibatkan penurunan fungsi jantung. Batasan karakteristiknya yaitu tekanan darah rendah, nadi cepat, Kurang istirahat, angina, distritmia, oliguria, kelelahan, vertigo dan edema. Diagnosa ini tidak dapat diangkat karena penulis tidak menemukan data yang dapat mendukung untuk menegakkan diagnosa ini karena tekanan darah pasien 160/100 mmHg dan tidak pada batas normal. Respirasi rate 22x/menit pada batas normal. Nadi 88x/ menit dan suhu 36,50C.


b.      Koping individu tidak efektif
Adalah suatu keadaan dimana individu mempunyai pengalaman atau mengalami keadaan yang beresiko tinggi, suatu ketidakmampuan untuk mengatasi stressor internal maupun eksternal secara adekuat yang berhubungan tidak adekuatnya sumber fisik, psikologis, perilaku atau kognitif (Carpenito, 1998).
Hasil pengkajian pada tanggal 29 April 2011 penulis tidak menemukan data yang dapat mendukung untuk menegakkan diagnosa ini, sehingga penulis tidak menegakkan diagnosa koping individu tidak efektif karena pasien mengatakan bahwa penyakit yang diderita merupakan hal yang biasa dan pasien yakin bahwa dirinya dapat sembuh.








                                    BAB IV
IMPLIKASI KEPERAWATAN

            Kasus yang dikelola pada tanggal 29 April 2011 mulai dari pengkajian sampai evaluasi didapat pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa medis hipertensi ada beeberapa kesenjangan antara kasus yang dihadapi dengan teori yang ada. Hal ini sesuai dengan sifat manusia yang unik dimana antara yang satu dengan yang lainnya dapat mempunyai permasalahan yang berbeda walaupun dari latar belakang kasus yang sama. Keberhasilan dalam suatu asuhan keperawatan sangat tergantung dari pemberian asuhan keperawatan, sarana dan prasarana yang tersedia serta keadaan pasien itu sendiri.
            Hubungan kooperatif antara perawat dan klien serta keluarga klien sangat diperlukan, adapun keadaan yang dihadapi saat pengelolaan kasus adalah adanya kecemasan yang dialami klien dan keluarga klien, serta ketidaktahuan keluarga dan klien tentang penyakit hipertensi dan bahayanya.  
            Setelah penulis melakukan tindakan asuhan keperawatan maka penulis memberi saran, yaitu :
1.      Saran untuk keluarga
36
 
Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada Ny. S hendaknya Tn. W dan keluarga dapat menerapkan kembali segala pengetahuan yang diperoleh. Keluarga juga mau membiasakan pola hidup sehat, sajikan makanan rendah kolesterol dan rendah garam, mencegah kebiasaan merokok dan minum alkohol, olahraga yang teratur, hindari stress, istirahat yang cukup dan mau memeriksakan keadaan Ny. S ke Puskesmas terdekat secara rutin.
2.      Saran untuk Rumah Sakit
Selama penulis melakukan Asuhan Keperawatan pada Ny. S penulis bekerja sama dengan pihak Rumah Sakit, Selama ini pula penulis dapat menyimpulkan bahwa partisipasi rumah sakit terhadap masalah kesehatan di wilayah cukup baik namun perlu ditingkatkan lagi dalam pelayanan.
3.      Saran untuk perawat
Berdasarkan pernyataan tersebut, maka sangat diperlukan perawat atau petugas yang ahli untuk menganamnesa secara tepat pada pertama kali masuk ke Rumah Sakit. Mungkin perlu juga adanya hubungan saling percaya antara perawat dan anggota keluarga pasien, perawat pun mampu menguasai dalam hal penyakit yang diderita pasien dan menyampaikannya dalam pendidikan kesehatan, selain itu perawat berkolaborasi dengan tim kesehatan lain seperti dokter, ahli gizi, petugas laboratorium dan lainnya. Pendidikan kesehatan dan motivasi tidak hanya diberikan kepada pasien tetapi juga kepada keluarga pasien untuk memberikan pengetahuan tentang penyakit yang diderita pasien. 





DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 1998. Diagnosa keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis edisi 6, Alih Bahasa Tim PSIK Universitas Padjajaran, Editor Monica Ester. EGC, Jakarta.
Doengoes, M.E. dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, editor. Monitor Ester, dkk, Alih Bahasa, Imade Kasiasa, EGC, Jakarta.
Http      : //AKPER PPNI SOLO JATENG. Blog spot. com/2010/04/ askep hipertensi. 24. html
Mansjoer, A ,dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Cetakan 1. Media Asculapius. Jakarta
Prihandana, 2006, Nanda : Panduan Diagnosa Keperawatan, Akademi Keperawatan Pemerintah Kota Tegal, Tegal
Suyono, S. 2001. Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Jilid II. Edisi 3. Balai penerbit FKUI. Jakarta.                    


 

 

 




















ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN
HIPERTENSI DI RUANG ROSELLA
RSU KARDINAH TEGAL








Oleh :
ABDI KURNIAJI
08.001




AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KOTA TEGAL
2011

 

LEMBAR PERSETUJUAN



Laporan kasus dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.S DENGAN DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI DI RUANG ROSELLA RSU KARDINAH TEGAL” telah disetujui pada :


Hari          :
Tanggal    :






Pembimbing




Hj. HANIFAH, SPd, M.kes
ii
 
NIP.195612011977032010
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.S DENGAN HIPERTENSI DI RUANG ROSELLA RSU KARDINAH TEGAL” yang telah disahkan pada :

Hari          :
Tanggal    :





              Mengetahui
Direktur Akper Pemkot Tegal                                                           Penguji




Hj. Wari Triasti, S.Kp.                                                           Agus Mulyadi, Ns.
NIP. 1961                                                                              03041983102001                 

iii
 
 

KATA PENGANTAR

               Syukur Alhamdulilah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan hasil laporan kasus yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Ny.S Dengan Hipertensi Di Ruang Rosella RSU Kardinah Tegal”
               Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapat bimbingan serta dorongan baik moral maupun materiil guna mencapai gelar Ahli Madya Keperawatan di Akper Pemkot Tegal. Untuk itu pada kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1.      Ibu Hj. Wari Triasti, S.Kp. Selaku Direktur Akper Pemkot Tegal
2.      Ibu Hanifah, SPd, M.Kes. Selaku pembimbing penyusunan laporan
3.      Bapak Deddy Utomo, Selaku Wali Kelas tingkat III A
4.               Ayah dan Bunda serta keluarga tercinta yang senantiasa memberikan dorongan baik materiil maupun spiritual
5.               Teman-teman , adik tingkat serta semua pihak yang telah memberikan motivasi dan membantu terselesaikannya laporan kasus ini.



iv
 
 

   Penulis menyadari bahwa dalam menyusun karya tulis ilmiah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif untuk kesempurnaan penyusun yang akan datang.
Akhir kata semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin.

                                                                                               Tegal, Mei 2011
                                                                                                        Penulis














v
 
 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................ i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING................................................. .... ii
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI............................................................... iii
KATA PENGANTAR.......................................................................................... iv
DAFTAR ISI........................................................................................................ vi

BAB I        KONSEP DASAR............................................................................. 1
A.    Pengertian...................................................................................... 1
B.     Penyebab....................................................................................... 2
C.     Tanda Dan Gejala.......................................................................... 3
D.    Komplikasi.................................................................................... 3
E.     Klasifikasi...................................................................................... 4
F.      Patofisiologi.................................................................................. 6
G.    Pathway......................................................................................... 10
H.    Penatalaksanaan............................................................................ 11
I.       Fokus Pengkajian.......................................................................... 12
J.       Fokus Intervensi............................................................................ 14

BAB II RESUME KEPERAWATAN................................................................. 18
A.   
vi
 
Pengkajian..................................................................................... 18
B.     Analisa Data Dan Diagnosa.......................................................... 23
C.     Diagnosa Keperawatan, Tujuan, Intervensi, Implementasi dan
Evaluasi......................................................................................... 23

BAB III PEMBAHASAN................................................................................... 27
A.    Nyeri (Sakit Kepala) Berhubungan Dengan Peningkatan
Tekanan Cerebral Vaskuler........................................................... 27
B.     Intoleransi Aktifitas Berhubungan Dengan Kelemahan
/ Fatique......................................................................................... 30
C.     Kurang Pengbetahuan Berhubungan Dengan Kurangnya
Informasi Tentang Penyakitnya.................................................... 32

BAB IV IMPLIKASI KEPERAWATAN........................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
vii
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar